Di Maumere, 3 Hari Siswa Tak Dapat MBG, Pihak Sekolah: 'Terkendala Dana'

Kamis, 11 Juni 2026 17:18 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

mbg2.jpg
Siswa tidak dapat MBG karena dana operasional terbatas. (Kreasi AI)

MAUMERE (Floresku.com) – Sejumlah siswa di salah satu sekolah dasar penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sikka bersaksi bahwa sudah tiga hari tidak menerima layanan makanan bergizi. 

Penghentian sementara tersebut menimbulkan tanda tanya di kalangan orang tua maupun para siswa, meskipun sebagian besar mengaku memahami situasi yang terjadi.

Marsya dan Martha, dua siswi kelas 3B yang ditemui media, mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kondisi tersebut. Menurut mereka, sebelum berangkat ke sekolah sudah sempat sarapan di rumah.

"Kalau kami biasa saja karena dari rumah sudah makan kenyang. Tapi aneh juga, kenapa tiba-tiba tidak dapat MBG lagi," ujar keduanya.

Baca juga:

Seorang ibu yang ditemui saat menjemput anaknya di sekolah juga menyampaikan bahwa kondisi tersebut tidak terlalu berdampak terhadap anak-anak karena saat ini mereka sedang menjalani masa ujian dengan jam pulang lebih cepat.

"Anak-anak sekarang lagi suasana ujian, jadi pulangnya lebih cepat. Syukurlah mereka juga tidak kelaparan karena dari rumah sudah makan," katanya.

Kepsek membenarkan kesaksian para siswa

Sementara itu, pihak sekolah membenarkan bahwa layanan MBG memang sudah tidak berjalan selama tiga hari terakhir. 

Kepala SDI Iligetang, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, mengatakan bahwa sekolah hanya mengikuti prosedur operasional yang ditetapkan pihak penyelenggara dapur MBG.

"Betul, sudah tiga hari anak-anak tidak mendapat MBG. Kami dari pihak sekolah mengikuti saja SOP dari dapur MBG," jelasnya.

Lebih lanjut, pihak sekolah mengaku telah menerima informasi dari pengelola dapur bahwa operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengalami kendala.

"Kami diinformasikan bahwa sejak Senin, 8 Juni 2026, SPPG Sikka Nangameting 02 ditutup sementara karena terkendala dana operasional yang belum masuk ke SPPG," ungkapnya.

Tidak hanya itu, pihak sekolah juga menerima informasi susulan bahwa pelayanan belum dapat kembali dilakukan dalam beberapa hari ke depan karena adanya proses pergantian tenaga ahli gizi.

"Ada pemberitahuan lagi bahwa untuk hari ini dan beberapa hari ke depan belum ada pelayanan karena masih menunggu ahli gizi yang baru," tambahnya.

Floresku.com berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak terkait, termasuk PIC MBG yang disebut bernama Satrya Cawa. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan atas upaya konfirmasi yang dilakukan media.

Penghentian sementara layanan MBG ini menjadi perhatian publik karena program tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik. 

Kejelasan mengenai kelanjutan operasional SPPG serta kepastian waktu dimulainya kembali distribusi MBG sangat dinantikan oleh pihak sekolah maupun para orang tua siswa.

Floresku.com akan terus berupaya mendapatkan penjelasan resmi dari pihak penyelenggara dan instansi terkait guna memastikan pelayanan MBG dapat kembali berjalan normal bagi para siswa penerima manfaat di Kabupaten Sikka. 

Sebuah ironi

Situasi sebagaimana disebutkan menjadi ironi tersendiri. Sebab, Floresku.com pada Rabu (10/6) memberitakan bahwa di tengah proses evaluasi program MBG, muncul perbincangan mengenai besarnya aliran dana dalam operasional dapur MBG. 

Seorang sumber menyebutkan bahwa nilai perputaran dana yang dikelola satu dapur MBG dapat mencapai sekitar Rp500 juta dalam sepekan, meskipun angka tersebut belum pernah mendapat konfirmasi resmi dari pihak-pihak terkait.

Besarnya nilai anggaran yang beredar itu membuat publik berharap pengelolaan program dapat berlangsung lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan.

Karena itu, penghentian layanan MBG selama beberapa hari dengan alasan dana operasional belum masuk dan adanya pergantian ahli gizi memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. 

Bagaimana mungkin program dengan nilai operasional yang disebut-sebut begitu besar justru mengalami gangguan pelayanan pada tingkat penerima manfaat? 

Kondisi ini menunjukkan pentingnya keterbukaan informasi, tata kelola yang baik, serta komunikasi yang jelas kepada sekolah dan orang tua, agar kepercayaan publik terhadap program yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak tersebut tetap terjaga.(Silvia). ***