labuan bajo
Selasa, 27 Januari 2026 15:25 WIB
Penulis:redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) - Masuknya kembali Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara dalam daftar Top Ten Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 bukan sekadar prestasi penyelenggaraan sebuah event pariwisata.
Pengakuan nasional ini menjadi penegasan bahwa kekuatan pariwisata Indonesia tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada kedalaman iman, kekayaan budaya, serta nilai kebersamaan sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Dari Bukit Golo Koe, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, festival ini menghadirkan wajah lain pariwisata nasional: sunyi namun bermakna, religius sekaligus inklusif.
Selama ini Labuan Bajo dikenal dunia karena pesona Komodo dan lanskap lautnya yang memukau. Namun Festival Golo Koe menunjukkan bahwa daya tarik sebuah daerah tidak berhenti pada panorama alam semata, melainkan juga pada dimensi spiritual dan kultural yang memberi makna lebih dalam bagi pengalaman wisata.
Di Golo Koe, iman Katolik diekspresikan secara terbuka dan membumi. Prosesi Maria Assumpta Nusantara, Ekaristi Agung, serta doa-doa yang berlangsung di ruang publik menjadi penanda bahwa spiritualitas dapat hadir di tengah kehidupan sosial tanpa kehilangan kesakralannya.
Baca juga:
Bukit Golo Koe tidak lagi sekadar lokasi geografis, melainkan ruang spiritual publik, tempat iman dirayakan dengan wajah yang ramah dan terbuka.
Dalam masyarakat yang majemuk, festival ini menghadirkan pesan kuat bahwa ekspresi iman tidak harus menciptakan jarak, tetapi justru dapat menjadi jembatan perjumpaan.
Partisipasi masyarakat lintas latar belakang agama dan budaya memperlihatkan bahwa Golo Koe bukan milik satu kelompok, melainkan ruang bersama yang merawat nilai toleransi dan kebersamaan.
Keistimewaan Festival Golo Koe juga terletak pada caranya merangkul budaya lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan iman. Tarian, musik, busana adat, serta simbol-simbol Manggarai tidak ditempatkan sebagai pelengkap seremonial, melainkan sebagai bahasa iman itu sendiri.
Budaya tidak dipentaskan secara artifisial, tetapi dihidupi oleh masyarakat melalui sanggar seni, orang muda, komunitas adat, hingga sekolah-sekolah.
Di sinilah Golo Koe membedakan diri dari banyak event budaya lainnya. Festival ini tidak jatuh pada folklorisasi, di mana tradisi direduksi menjadi tontonan semata. Sebaliknya, budaya tetap berakar pada nilai, sejarah, dan identitas kolektif masyarakat. Iman dan budaya berjalan beriringan, saling meneguhkan, bukan saling meniadakan.
Masuknya Festival Golo Koe ke Top Ten KEN 2026 juga menjadi pengakuan nasional atas model festival yang berdampak. KEN sebagai program strategis pariwisata Indonesia tidak hanya menilai kemeriahan acara, tetapi juga keunikan, keberlanjutan, serta kontribusinya bagi masyarakat.
Dalam konteks ini, Golo Koe menawarkan contoh konkret bahwa event religi-budaya mampu memperkuat citra pariwisata nasional yang berkarakter dan berakar.
Bagi NTT, penghargaan ini penting karena membalik narasi lama tentang keterbatasan daerah. Dari wilayah pinggiran justru lahir praktik pariwisata berbasis nilai, toleransi, dan partisipasi masyarakat.
Dampak sosial dan ekonominya pun nyata, terutama melalui keterlibatan UMKM lokal yang membuka ruang ekonomi lebih inklusif.
Namun, pengakuan nasional juga membawa tantangan. Komersialisasi berlebihan, pengelolaan lingkungan, serta regenerasi orang muda menjadi isu penting yang harus dijawab agar festival ini tidak kehilangan roh spiritual dan kulturalnya.
Pada akhirnya, Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara bukan sekadar agenda wisata, melainkan gerakan kultural dan spiritual yang merawat iman, merayakan budaya, serta memaknai kebangsaan Indonesia yang majemuk. (Vinsen Patno). ***