Sikka
Selasa, 03 Februari 2026 08:22 WIB
Penulis:redaksi

JAKARTA (Floresku.com) - Kisah pilu datang dari Dusun Woloone, Desa Ndaimbere, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka. Seorang guru SMK St. Markus Paga, Hendrik, terpaksa membawa peti jenazah menggunakan kendaraan roda dua akibat buruknya akses jalan menuju wilayah tempat tinggalnya.
Hendrik mengungkapkan, peristiwa tersebut terjadi saat dirinya bersama rekan-rekannya harus mengantar jenazah dari Paga menuju Dusun Woloone pada Jumat (30/1) lalu. Jalan yang rusak parah membuat mobil tidak bisa masuk, sehingga satu-satunya pilihan adalah mengangkut peti mati dengan sepeda motor.
“Jalan ke tempat kami sangat sulit, padahal di sana ada fasilitas publik seperti satu sekolah dasar, SD Inpres Wolobheto, dan satu kapel,” ujar Hendrik kepada Floresku.com, Senin (2/1).
Baca juga:
Menurutnya, Dusun Woloone dihuni oleh 86 kepala keluarga dengan total 286 jiwa yang tersebar di tiga RT.
Namun hingga kini, akses infrastruktur dasar masih sangat terbatas. Jalan rabat beton hanya bisa dilalui sampai wilayah Wolodheghe, setelah itu warga harus menempuh sekitar 11 kilometer jalan tanah merah berlumpur, apalagi saat musim hujan.
Perjuangan membawa peti jenazah itu bahkan sempat viral di media sosial dan memicu simpati publik. Banyak warganet menilai kondisi tersebut mencerminkan ketimpangan pembangunan di wilayah pedesaan.
Hendrik berharap pemerintah daerah dapat segera memberi perhatian serius terhadap kondisi dusunnya. “Bukan hanya jalan, listrik juga kami belum ada sampai sekarang,” katanya.
Ia menegaskan, tanpa infrastruktur yang layak, warga tidak hanya kesulitan dalam aktivitas ekonomi dan pendidikan, tetapi juga dalam situasi kemanusiaan paling mendasar seperti mengantar orang meninggal.
Kisah ini menjadi potret nyata keterisolasian desa yang masih dialami sebagian masyarakat di Flores. (Silvia). ***
2 bulan yang lalu