Pemakaman
Jumat, 10 April 2026 08:06 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) — Peristiwa unik dan inspiratif terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Seorang imam Katolik, Romo Richardus Manggu, dipercaya menjadi Ketua Panitia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI tingkat kabupaten.
Kepercayaan ini menjadi sorotan karena MTQ merupakan kegiatan keagamaan umat Islam yang sarat nilai spiritual dan identitas komunitas. Namun di Manggarai Barat, perbedaan justru menjadi jembatan kebersamaan.
Romo Richardus Manggu yang juga menjabat Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Manggarai Barat terpilih dalam rapat pembentukan panitia yang digelar di Labuan Bajo, Selasa (7/6).
Rapat tersebut dipimpin Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Manggarai Barat, Fransiskus Xaverius Nambut.
“Sebagai ketua umum, Romo Richardus Manggu, Pr,” ujar Fransiskus saat membacakan susunan panitia.
Penunjukan seorang imam Katolik sebagai ketua panitia MTQ dinilai sebagai cerminan kuat harmoni lintas iman di Manggarai Barat. Kepercayaan ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan lahir dari relasi sosial yang telah lama terbangun di tengah masyarakat.
Baca juga:
Menanggapi penunjukan tersebut, Romo Richard menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada para tokoh Muslim yang telah memberikan kepercayaan.
“Saya sangat menghargai kepercayaan ini. Ini menegaskan komitmen Manggarai Barat sebagai daerah yang terbuka dan toleran, sekaligus menunjukkan wajah Gereja yang inklusif,” ujarnya.
Panitia MTQ XXXI sendiri terdiri dari berbagai unsur, baik tokoh Muslim maupun Kristiani. Rapat pembentukan panitia turut dihadiri unsur pemerintah daerah, Kementerian Agama, MUI Manggarai Barat, LPTQ, BAZNAS, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur TNI dan Polri.
MTQ XXXI Tingkat Kabupaten Manggarai Barat dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 27 April hingga 1 Mei 2026. Kegiatan ini akan dipusatkan di Masjid Nurul Falah Wae Mata.
MTQ bukan sekadar ajang perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi sarana pembinaan iman dan penguatan nilai-nilai keagamaan umat Islam.
Keterlibatan pemimpin lintas agama dalam kegiatan ini menghadirkan pesan kuat tentang inklusivitas dan kepercayaan sosial di tengah masyarakat majemuk.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai, penunjukan ini bukan sekadar simbol toleransi, tetapi wujud nyata kebersamaan yang telah lama hidup di Manggarai Barat.
“Ini bukan sekadar simbol. Ini adalah bentuk kepercayaan yang nyata,” ungkap salah satu tokoh masyarakat di Labuan Bajo.
Pengamat sosial juga menilai, peristiwa ini dapat menjadi contoh praktik baik toleransi di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan keberagaman, Manggarai Barat menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan.
Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan agar nilai toleransi tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Semangat kebersamaan perlu terus dihidupi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan pelayanan publik.
Peristiwa ini juga dinilai memiliki nilai edukatif bagi generasi muda tentang pentingnya dialog, kerja sama, dan kepemimpinan inklusif.
Dengan peristiwa ini, Manggarai Barat tidak hanya dikenal sebagai destinasi pariwisata unggulan, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menghadirkan harmoni sosial yang nyata.
Floresku.com mencatat, kepercayaan lintas iman seperti ini menjadi bukti bahwa kebhinekaan bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari yang terus dirawat bersama. (Vinsen Patno). ***
2 tahun yang lalu