Kepsek SDI Wairklau Soroti Menu MBG: Kurang Variasi dan Rasa Hambar

Jumat, 10 April 2026 19:00 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Kespsek.jpg
Maria Dua Nuna Kepala Sekolah SD Inpres LXXV1 Wairklau Maumere (Silvia)

MAUMERE (Floresku.com) -  Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SD Inpres  Wairklau dinilai berjalan baik dari sisi distribusi, tetapi masih menyisakan sejumlah catatan penting terkait variasi menu dan cita rasa.

Kepala sekolah setempat, Maria Dua Nuna, mengungkapkan bahwa selama ini pelaksanaan MBG tidak mengalami kendala berarti. Makanan selalu tersedia dan dibagikan secara rutin kepada siswa. Namun, menurutnya, kualitas menu perlu mendapat perhatian serius.

“Secara umum program ini bagus dan berjalan lancar. Tidak ada masalah dalam penyaluran. Tetapi menunya kurang bervariasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir, menu yang diberikan cenderung didominasi telur dan daging ayam. Variasi olahan ayam memang ada, seperti ayam suwir atau ayam bumbu, tetapi tetap terasa monoton bagi anak-anak.

“Anak-anak sering bertanya, kenapa di sekolah lain ada rendang, sementara di sini tidak pernah ada variasi seperti itu,” tambahnya.

Baca juga:

Selain variasi, persoalan rasa juga menjadi sorotan. Maria menilai sayur yang disajikan cenderung hambar dan kurang menarik bagi anak-anak. Ia bahkan mengaku sering mencicipi makanan sebelum dibagikan.

“Sayurnya seperti direbus tanpa bumbu. Tidak ada rasa. Anak-anak akhirnya tidak makan,” katanya.

Akibatnya, banyak sayur yang terbuang. Bahkan, sebagian dibawa pulang untuk diberikan kepada ternak karena tidak dikonsumsi siswa.

Hal serupa juga terjadi pada menu ikan yang sangat jarang diberikan. Padahal, ikan merupakan sumber protein penting bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan.

Kritik juga disampaikan terkait makanan ringan (snack) yang dibagikan setiap Sabtu. Menu snack dinilai tidak bervariasi, umumnya hanya roti, telur rebus, kacang goreng, dan buah musiman.

“Rotinya juga tidak ada rasa. Anak-anak sering tidak makan dan akhirnya dibuang,” ungkap Maria.

Salah satu siswa kelas IV, Fandi, mengaku senang dengan adanya program MBG karena membantu kebutuhan makan di sekolah. Namun, ia berharap menu yang disajikan bisa lebih beragam dan memiliki rasa yang lebih enak.

“Sayurnya bagus kelihatannya, tapi pas dimakan hambar,” katanya polos.

Pihak sekolah berharap pengelola dapur dapat melakukan evaluasi, terutama dalam hal variasi menu dan pengolahan rasa, tanpa mengabaikan standar gizi yang telah ditetapkan.

Sementara itu, pihak pengelola dapur MBG yang berlokasi di Kelurahan Kota Uneng belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan media tidak mendapat tanggapan.

Program MBG sendiri diharapkan menjadi solusi peningkatan gizi anak. Namun, tanpa perbaikan pada kualitas rasa dan variasi, tujuan tersebut dinilai belum sepenuhnya tercapai. (Silvia). ***