umat
Minggu, 12 April 2026 11:52 WIB
Penulis:Redaksi

BARI (Floresku.com) - Perayaan Misa Krisma yang dirangkaikan dengan pembaruan janji imamat serta syukur perak imamat berlangsung khidmat di Paroki St. Martinus Bari, Jumat (10/04).
Momentum iman ini menegaskan kembali panggilan Gereja untuk hadir, bersatu, dan memberi kesaksian di tengah dunia yang terus berubah.
Mgr. Maksi: Kehadiran, Kesatuan, dan Kesaksian Menjadi Isu Krusial
Uskup Labuan Bajo, Maksimus Regus, dalam homilinya menegaskan bahwa Gereja saat ini menghadapi tiga isu krusial yang menentukan hidupnya: kehadiran, kesatuan, dan kesaksian.
“Hari ini Gereja partikular kita berkumpul di sekitar altar dan kursi uskup untuk merayakan liturgi yang sangat kaya makna: Gereja yang diurapi dan Gereja yang diutus,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa Gereja dipanggil menjadi Ecclesia uncta, Ecclesia missa—Gereja yang diurapi dan diutus untuk membawa kabar baik.
Gereja Dipanggil Hadir dalam Luka Umat
Menurut Mgr. Maksi, tantangan pertama adalah kehadiran. Gereja tidak cukup hanya memiliki program, tetapi harus sungguh hadir dalam luka hidup umat.
“Kehadiran Gereja bukan administratif, melainkan inkarnatif—hadir di rumah duka, keluarga retak, kaum muda yang bingung, serta mereka yang miskin dan tersisih,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa minyak orang sakit yang diberkati menjadi tanda nyata kehadiran Allah yang menyembuhkan, sekaligus panggilan bagi para pelayan Gereja untuk menjadi wajah Kristus yang memulihkan.
Kesatuan Jadi Kekuatan Gereja Lokal
Isu kedua adalah kesatuan. Dalam dunia yang terfragmentasi, Gereja dipanggil menampilkan communio—persatuan yang hidup.
“Misa Krisma adalah simbol satu altar, satu uskup, satu presbiterium, dan satu umat. Di sinilah Gereja menjadi tanda profetis bagi dunia,” kata Uskup.
Ia menegaskan bahwa perbedaan karisma dan medan pelayanan bukan untuk memecah, tetapi memperkaya tubuh Kristus, khususnya dalam kehidupan Gereja lokal Keuskupan Labuan Bajo.
Kesaksian Hidup Lebih Kuat dari Kata
Isu ketiga adalah kesaksian. Dunia, menurutnya, tidak hanya membutuhkan kata-kata, tetapi hidup yang dapat dipercaya.
“Jawaban atas krisis dunia bukan sekadar pidato, tetapi kesaksian hidup—testimonium paschale—yang lahir dari Kristus yang wafat dan bangkit,” tegasnya.
Para imam dipanggil memberi kesaksian melalui kesetiaan dan sukacita pelayanan, sementara umat melalui kehidupan keluarga, keberanian iman kaum muda, dan keberpihakan pada yang kecil.
Syukur Perak Imamat dan Tradisi Baru Keuskupan
Perayaan ini juga menjadi momen syukur 25 tahun imamat bagi Maksimus Regus bersama dua imam, yakni Benediktus Hengki dan Charles Suwendi.
Tradisi baru pun mulai dibangun oleh Keuskupan Labuan Bajo, yakni merangkaikan Misa Krisma dengan perayaan syukur perak dan pancawindu imamat.
“Ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus memperkuat persaudaraan imamat dalam pelayanan bersama Uskup,” ungkap Frans Nala.
Paroki Bari Jadi Tuan Rumah Bersejarah
Pelaksanaan Misa Krisma di tingkat paroki menjadi hal yang istimewa. Biasanya dirayakan di katedral, namun kali ini dipindahkan ke wilayah pastoral.
“Ini kesempatan melihat langsung kehidupan umat di wilayah pesisir,” kata Servulus Juanda.
Pastor Paroki Bari, Benediktus Hengki, menyebut momen ini sebagai kehormatan besar bagi umat setempat.
“Meski dengan keterbatasan akses dan fasilitas, ini menjadi berkat dan harapan perubahan bagi kami,” ujarnya.
Gereja Diutus Mengurapi Dunia dengan Kasih
Melalui pengurapan minyak krisma dan pembaruan janji imamat, Gereja diteguhkan sebagai umat yang diurapi dan diutus. Tidak hanya imam, tetapi seluruh umat dipanggil menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan nyata.
Perayaan ini menegaskan kembali bahwa Gereja hidup dari kesetiaan—kesetiaan para imam dalam panggilan, dan kesetiaan umat dalam iman—yang kemudian diutus menjadi saksi kasih, pembawa harapan, dan wajah belas kasih Allah di tengah dunia. (Vinsen Patno). ***