Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026 12:28 WIB
Penulis:Redaksi

LABUAN BAJO (Floresku.com) - Pesatnya pembangunan pariwisata super premium di Labuan Bajo dinilai tidak boleh mengabaikan masyarakat kecil, seperti nelayan, petani, pelaku UMKM, perempuan, dan kelompok rentan lainnya.
Oleh karena itu, Caritas Internationalis, Caritas Indonesia, dan Keuskupan Labuan Bajo memperkuat kerja sama kemanusiaan agar pembangunan tetap berorientasi pada martabat manusia dan kelestarian lingkungan.
Kolaborasi ini menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari investasi dan jumlah wisatawan, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat lokal.
Gereja Katolik melalui jaringan Caritas ingin memastikan masyarakat adat dan warga pesisir tidak menjadi penonton di daerahnya sendiri.
Baca juga:
Caritas Internationalis merupakan konfederasi lembaga kemanusiaan Gereja Katolik yang berdiri resmi di Roma pada 1951 dan kini hadir di lebih dari 200 negara dan wilayah. Di Indonesia, jaringan ini diwakili oleh Caritas Indonesia yang berdiri sejak 17 Mei 2006 dan kini aktif di 38 keuskupan.
Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menegaskan Gereja tidak menolak pembangunan, tetapi ingin mengawal pembangunan yang adil dan manusiawi.
Menurutnya, pariwisata harus menjadi jalan kesejahteraan bersama, bukan hanya keuntungan bagi segelintir pihak.
Sementara itu, Presiden Caritas Internationalis, Kardinal Tarcisio Isao Kikuchi, SVD menekankan pentingnya pembangunan berbasis komunitas.
Program kerja sama diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan sosial, pelatihan generasi muda, perlindungan lingkungan, dan penguatan solidaritas kemanusiaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Labuan Bajo berkembang pesat sebagai destinasi wisata unggulan. Infrastruktur dan investasi meningkat, namun muncul pula kekhawatiran mengenai ketimpangan sosial, tekanan terhadap ruang hidup masyarakat, dan ancaman kerusakan lingkungan.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, delegasi Caritas Internationalis dan Caritas Indonesia mengunjungi komunitas dampingan Caritas Keuskupan Labuan Bajo di Paroki Santa Teresia Kalkuta Datak.
Mereka bertemu para petani peserta Program HARVEST yang mengembangkan pertanian organik, produksi pupuk alami, pestisida organik, dan Mikro Organisme Lokal (MOL) secara mandiri.
Program tersebut menjadi contoh penerapan pesan ensiklik Laudato Si' dari Paus Fransiskus tentang pentingnya mendengar “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin”.
Perayaan 75 tahun Caritas Internationalis dan 20 tahun Caritas Indonesia di Labuan Bajo juga diharapkan memperkuat jejaring solidaritas kemanusiaan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk, mengapresiasi Keuskupan Labuan Bajo yang menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.
Apresiasi juga datang dari Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, yang berharap kolaborasi Gereja dan pemerintah semakin meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Vinsen Patno). ***