Tuhan
Sabtu, 04 Juli 2026 08:30 WIB
Penulis:Redaksi

Oleh: Pater Gregor Nule, SVD
Manusia cenderung bertahan dengan tradisi dan kebiasaan. Mungkin orang sudah merasa terbiasa dan tidak mau berubah lagi. Bahlan yang dianggap suci, kekal dan mesti dipertahankan.
Mungkin juga yang lama sudah tidak cocok lagi dan bertentangan semangat hidup, tetapi tetap saja dipertahankan dan dipraktekkan.
Dalam perikop Injil Mat 9:14-17 Yesus menanggapi pertanyaan para murid Yohanes yang mempersoalkan praktek hidup keagamaan Yesus dan murid-muridNya.
Mereka pertanyakan alasan mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa, sesuai tradisi dan tuntutan ajaran Kitab Taurat.
Yesus menanggapinya dengan mengajukan perumpamaan tentang kain penambal baru dan anggur baru.
Yesus tegaskan bahwa kain penambal baru tidak boleh ditambalkan pada kain yang sudah tua sebab akan merusakkan kain tua itu.
Demikian pun, anggur baru tidak boleh disimpan dalam kirbat tua, karena akan merusakkan kirbat itu dan anggurnya tertumpah. Anggur baru mesti disimpan di dalam kirbat yang baru pula.
Melalui perumpamaan ini Yesus ajak kita untuk terbuka terhadap kehadiran dan ajaranNya. Dia menawarkan ketaatan kepada Allah dan perintah-perintahNya.
Hukum dan aturan itu penting, tetapi bukan yang paling utama. Hukum dan aturan hendaknya menghantar kepada cinta tulus kepada Allah dan sesama.
Ketika kita terbuka terhadap Yesus dan ajaranNya maka hati kita siap untuk menerima rahmat Allah dan diperbarui. Dengan drmikian, hidup, karya, sikap dan tingkah laku berubah sesuai dengan tuntunan dan kehendak Allah.
Yesus tegaskan bahwa Dia adalah mempelai laki-laki yang membawa sukacita kepada sahabat-sahabatNya.
Maka orang yang terbuka hatinya dan dibarui oleh rahmat Allah akan hidup dalam damai sejahtera dan sukacita.
Semoga Tuhan Yesus memberkati selalu!
Kewapante, 04 Juli 2026. ***