nilai-nilai
Senin, 01 Juni 2026 09:59 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

Profil Buku:
Relevansi Pancasila di Kancah Global
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk merenungkan kembali dasar negara yang digali dari bumi Nusantara.
Namun, di tengah situasi geopolitik dunia abad ke-21 yang serba tidak menentu, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Apakah relevansi Pancasila hanya berhenti di batas teritorial Indonesia?
Buku berjudul Pancasila: Fondasi ‘Rumah Bersama’ Masyarakat Global hadir memberikan jawaban yang tegas dan visioner.
Buku setebal 237 halaman ini secara cerdas menggeser paradigma Pancasila; dari yang semula dipahami secara domestik sebagai alat pemersatu bangsa, menjadi sebuah tawaran solusi etis bagi krisis kemanusiaan global melalui jalur diplomasi.
Seperti yang terlihat nyata pada foto sampul buku: lambang Garuda Pancasila tampak kokoh menaungi peta bola dunia dengan latar belakang situs budaya Borobudur, menyimbolkan tekad kuat untuk menjadikan nilai luhur Indonesia sebagai pemandu perdamaian dunia.
Menelusuri Akar Sejarah dan Ketangguhan Ideologi
Buku yang disunting secara rapi oleh Yohanes Ngamal dan Maxi Ali Perajaka ini menuntun pembaca secara runut melalui lima bagian utama.
Pada bagian awal, penulis mengajak kita bernostalgia ke rahim sejarah, tepatnya di Ende, tempat Bung Karno merenungkan dan menggali nilai-nilai luhur yang kelak menjadi philosofische grondslag (dasar filsafat) bangsa.
Penulis menegaskan bahwa Pancasila bukanlah ideologi tiruan, melainkan kristalisasi kebudayaan asli Indonesia yang bersifat multikultural.
Satu poin menarik yang dibahas adalah ketangguhan Pancasila yang dilabeli sebagai "Pancasila Sakti". Penulis secara objektif memetakan dinamika sejarah dari Era Orde Lama, Orde Baru, hingga Era Reformasi.
Pancasila terbukti tidak goyah meskipun berulang kali diterpa badai pemberontakan, penyimpangan substansif oleh penguasa, maupun tantangan sosial-budaya modern.
Kekuatan adaptif ini mengukuhkan Pancasila sebagai ideologi terbuka yang sangat relevan untuk diwariskan kepada generasi muda dalam menghadapi arus globalisasi.
Menjawab Tantangan Krisis Kemanusiaan Modern
Inti urgensi dari buku terbitan Pelita Publishing ini terletak pada analisisnya mengenai krisis kemanusiaan. Penulis membedah bagaimana dunia hari ini dikepung oleh berbagai bencana modern, mulai dari konflik geopolitik, kemiskinan ekstrim, hingga puncaknya saat pandemi Covid-19 mengubah wajah peradaban.
Di sinilah benang merah buku ini mulai terajut dengan kuat. Penulis mengawinkan sejarah aksi kemanusiaan global - dimulai dari kepeloporan Henri Dunant hingga Deklarasi Hak Asasi Manusia oleh PBB - dengan nilai eksternal Pancasila.
Buku ini berargumen bahwa ketika institusi global kerap mengalami kebuntuan politik dalam mengatasi konflik internasional, pendekatan etis-kemanusiaan berbasis nilai-nilai Pancasila dapat menjadi jalan keluar yang netral dan merangkul semua pihak.
Praktik Diplomasi Kemanusiaan Indonesia
Buku ini tidak sekadar berteori. Pembaca disuguhkan rekam jejak historis yang impresif mengenai bagaimana Indonesia mempraktikkan diplomasi kemanusiaan dari masa ke masa.
Kita diajak melihat bagaimana implementasi sila kedua, "Kemanusiaan yang adil dan beradab", diterjemahkan ke dalam kebijakan luar negeri yang bebas aktif.
Dampaknya sangat nyata: Indonesia berhasil menembus posisi 10 besar negara pengirim pasukan perdamaian PBB di dunia.
Penulis juga mengabadikan kiprah tokoh-tokoh inspiratif serta lembaga-lembaga nasional yang bergerak aktif di garis depan zona konflik dan bencana global.
Melalui fakta-fakta ini, terbukti bahwa bagi Indonesia, diplomasi bukan sekadar urusan kejar-mengejar kepentingan ekonomi, melainkan pemenuhan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Meng-Global-kan Pancasila di Hari Lahir Pancasila
Buku ini ditutup dengan sebuah ajakan reflektif yang sangat kuat untuk membentengi Pancasila dari terjangan arus globalisasi sekaligus meng-go global-kannya sebagai fondasi "Rumah Bersama" umat manusia.
Validitas visi ini semakin diperkuat oleh catatan pengantar dari dua tokoh lintas agama terkemuka, yaitu: Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA (Menteri Agama Republik Indonesia) dan Pater Dr. Markus Solo Kewuta, SVD (staf di Dikasteri untuk Dialog Antaragama, Vatikan).
Kehadiran dua tokoh ini menegaskan bahwa nilai kemanusiaan dalam Pancasila diakui secara inklusif, baik dalam konteks nasional maupun keagamaan tingkat dunia.
Momentum Hari Lahir Pancasila menjadi waktu yang sangat tepat untuk membaca karya ini.
Buku ini layak berada di meja para diplomat, dan perlu dibaca oleh akademisi, mahasiswa, serta seluruh elemen bangsa yang merindukan melihat kepakan sayap Garuda Indonesia membawa pesan perdamaian ke seluruh penjuru bumi. (Leoni)***