Hari
Sabtu, 14 Februari 2026 08:46 WIB
Penulis:redaksi

JAKARTA (Floresku.com) – Hari Valentine kerap diasosiasikan dengan bunga, cokelat, dan ungkapan cinta. Namun di balik nuansa romantis itu, sejarah Valentine ternyata jauh lebih kompleks, bahkan menyimpan sisi kelam yang jarang diketahui publik.
Sejumlah sejarawan menelusuri asal-usul Hari Valentine pada festival Romawi kuno bernama Lupercalia, yang dirayakan setiap 15 Februari.
Festival ini menandai datangnya musim semi dan kesuburan, tetapi dirayakan dengan cara ekstrem: pengorbanan hewan, pesta minuman keras, hingga ritual memasangkan pria dan wanita secara acak melalui undian nama.
Baca juga:
Ketika Kekristenan mulai menyebar di Kekaisaran Romawi, praktik-praktik seperti Lupercalia dianggap tidak sejalan dengan iman Kristen. Pada akhir abad ke-5, Paus Gelasius I melarang perayaan ini.
Sejak saat itu, muncul Hari Santo Valentine yang secara perlahan menggantikan festival tersebut, meski bukti sejarahnya tidak sepenuhnya jelas.
Tokoh St Valentinus sendiri diselimuti legenda. Ia diyakini sebagai martir abad ke-3 yang dieksekusi pada 14 Februari.
Salah satu kisah menyebutkan ia adalah imam yang diam-diam menikahkan para prajurit yang dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II.
Kisah lain menyebut ia menulis surat cinta terakhir kepada putri sipir penjara, yang kemudian dianggap sebagai “valentine” pertama.
Namun karena minim bukti historis, Gereja Katolik menghapus namanya dari Kalender Liturgi Umum pada 1969.
Citra romantis Valentine mulai menguat pada Abad Pertengahan. Penyair Inggris Geoffrey Chaucer lewat puisinya The Parliament of Fowls (1382) menggambarkan burung-burung yang memilih pasangan pada Hari Valentine. Sejak itulah, tanggal 14 Februari mulai dipandang sebagai hari cinta.
Ironisnya, Valentine juga pernah menjadi simbol tragedi. Pada 14 Februari 1929, tujuh orang tewas dalam Pembantaian Hari Valentine di Chicago akibat konflik geng yang melibatkan Al Capone. Peristiwa ini menjadi salah satu episode kelam dalam sejarah Amerika Serikat.
Tradisi bertukar kartu Valentine mulai populer sejak abad ke-17 di Eropa dan Amerika. Kini, industri ini berkembang pesat; menurut Hallmark, sekitar 145 juta kartu Valentine terjual setiap tahun di dunia.
Dalam budaya modern, selain Hari Valentine muncul pula ‘Hari Galentine’—hari untuk merayakan persahabatan, dipopulerkan oleh Amy Poehler lewat serial Parks and Recreation.
Dirayakan pada 13 Februari, Galentine menegaskan bahwa kasih sayang tak selalu soal pasangan romantis.
Meski dirayakan luas, Hari Valentine bukan hari libur resmi Gereja Katolik maupun hari libur nasional. Namun justru di situlah maknanya: bukan soal tanggal merah, melainkan tentang bagaimana manusia merayakan cinta—dalam berbagai bentuknya. (Rachel). ***