Unika Ruteng Kukuhkan Prof. Maksi Regus dan Prof. Sabina Ndiung Jadi Guru Besar

Jumat, 08 Mei 2026 15:47 WIB

Penulis:Redaksi

grur bear 5.jpeg
Pengukuhan dua guru besar di Unika St Paulus Ruteng, Jumat (8/5). (Vinsen Patno)

RUTENG (Floresku.com) – Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng (Unika St. Paulus Ruteng) kembali mencatat sejarah akademik melalui pengukuhan dua guru besar dalam sidang terbuka luar biasa Senat Universitas yang digelar di Aula Gedung Utama Timur (GUT) Lantai 5, Jumat, 8 Mei 2026.

Dua akademisi yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Maksimus Regus, S.Fil., M.Si sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme serta Prof. Dr. Sabina Ndiung, M.Pd sebagai Guru Besar bidang Pendidikan Matematika, khususnya Asesmen Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar.

Pengukuhan tersebut didasarkan pada Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1767/M/KPT.KP/2026 untuk Prof. Maksimus Regus dan Nomor 1766/M/KPT.KP/2026 untuk Prof. Sabina Ndiung, yang menetapkan keduanya sebagai profesor terhitung mulai 1 Januari 2026.

Baca juga:

Rektor Unika St. Paulus Ruteng, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic.Theol menyebut momentum pengukuhan itu sebagai hari rahmat, sukacita akademik sekaligus hari pengharapan bagi dunia pendidikan tinggi di Flores dan Nusa Tenggara Timur.

“Kita berkumpul bukan hanya untuk merayakan pencapaian pribadi, tetapi untuk meneguhkan panggilan intelektual dan spiritual: menjadi terang di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian,” ujar Dr. Habur.

Menurutnya, tema besar pengukuhan “Menavigasi Ketidakpastian” sangat relevan dengan situasi global saat ini yang ditandai oleh disrupsi teknologi, polarisasi sosial, krisis ekologis dan kegamangan nilai.

Ia menilai kehadiran Prof. Maksimus Regus dan Prof. Sabina Ndiung menunjukkan bahwa Unika St. Paulus Ruteng terus bertumbuh sebagai komunitas akademik yang reflektif, hidup dan transformatif.

Dalam pidatonya, Dr. Habur menegaskan pentingnya integrasi antara iman dan rasio dalam dunia pendidikan modern. Menurutnya, refleksi sosial-keagamaan dan kecerdasan logis matematis bukan dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam membangun peradaban manusia.

“Iman tanpa kejernihan berpikir dapat menjadi rapuh, sementara kecerdasan logis tanpa nilai iman dapat menjadi kering dan kehilangan arah,” katanya.

Pada kesempatan itu, Prof. Maksimus Regus melalui orasi ilmiahnya yang berjudul “Meneropong Agama di Era Post-Antroposen: Menuju Kajian Trans-Sosiologis” menyoroti krisis ekologis dan krisis peradaban global yang menurutnya tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga dimensi moral, sosial dan spiritual manusia.

“Krisis ekologis bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi krisis peradaban yang menyentuh dimensi moral, sosial dan spiritual manusia,” tegasnya.

Baca juga:

Ia juga menempatkan agama sebagai kekuatan moral dan reflektif yang mampu memberi arah di tengah ketidakpastian global melalui pendekatan trans-sosiologis yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu.

Sementara itu, Prof. Sabina Ndiung dalam orasi ilmiahnya mengangkat inovasi pembelajaran matematika berbasis Project-Based Learning (PjBL) yang berorientasi pada Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Menurutnya, pembelajaran matematika harus mendorong siswa berpikir kritis, kreatif dan mampu memecahkan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Pembelajaran matematika harus memberi ruang bagi siswa untuk mengonstruksi pengetahuan melalui pengalaman nyata dan pemecahan masalah kontekstual,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendekatan tersebut terbukti meningkatkan kemampuan analisis, evaluasi dan kreativitas siswa sekaligus memperkuat kolaborasi dan kemandirian belajar.

Prof. Sabina Ndiung juga mencatat sejarah sebagai salah satu profesor perempuan pertama di Unika St. Paulus Ruteng. Ia bersama suaminya, Prof. Dr. Sebastian Menggo, menjadi pasangan suami istri pertama di kampus tersebut yang sama-sama menyandang gelar profesor.

Pengukuhan dua guru besar ini dinilai menjadi simbol penguatan kapasitas akademik Unika St. Paulus Ruteng dalam menjawab tantangan zaman, baik melalui pengembangan kajian sosial-keagamaan maupun inovasi pendidikan yang transformatif. (Vinsen Patno). ***