HOMILI Minggu Pertama Prapaskah, 22 Februari 2026

Sabtu, 21 Februari 2026 16:11 WIB

Penulis:redaksi

goris nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

PANGGILAN UNTUK MENYADARI GODAAN SETAN SETIAP SAAT DALAM HIDUP

   (Minggu I Praspaskah A:  Kej 2:7-9. 3:1-7; Rm 3:12-19; Mat 4:1-11) 

Oleh: Pater Gregor Nule SVD

Ilustrasi :

Seorang tukang cukur di istana raja sedang berisitrahat di bawah naungan pohon beringin yang rindang dan sejuk. Tiba-tiba ia mendengar suatu suara dari atas pohon itu, “Apakah engkau ingin memiliki tujuh periuk tanah yang  penuh berisi kepingan emas?” 

Dengan sedikit takut ia menjawab, “Ya, saya mau”. Lanjut suara itu,“Pulanglah segera ke rumahmu, dan engkau akan menemukannya di sana”. 

Si tukang cukur berlari cepat-cepat ke rumahnya dan ternyata benar. Ada tujuh periuk tanah, enam di antaranya  penuh dengan kepingan emas, sedangkan satu periuk lainnya hanya berisi separuh. 

 Si tukang cukur mulai sibuk memikirkan bagaimana memenuhi periuk ketujuh dengan emas.

Ia mulai menjual barang-barang keluarga dan menukarnya dengan emas. Periuk itu tetap saja tidak penuh. Ia sangat penasaran. Maka mulailah ia menabung dan menghemat. Usahanya tetap sia-sia. 

Ia memohon kepada raja supaya menaikkan gajinya. Dan raja pun mengabulkan permintaannya dengan kenaikan dua kali lipat. Lagi-lagi ia mengisi periuk itu dengan emas yang diperoleh dari gajinya. Bahkan ia sampai meminta-minta seperti pengemis di jalan-jalan. Periuk itu  tetap saja tidak penuh. 

Si tukang cukur menjadi gelisah. Tak ada lagi kegembiraan dan sukacita seperti yang dialami sebelumnya bersama keluarga dan pekerja-pekerja lain di istana. 

Nafsu mengumpulkan harta benda membuat si tukang cukur menjadi semakin rakus dan serakah.  Nafsu mengumpulkan kekayaan yang tiada batas menutup mata dan hatinya terhadap diri sendiri, orang-orang di sekitar dan Tuhan.

Refleksi

Dalam hidup sehari-hari, godaan selalu bersembunyi dalam selimut harta kekayaan, kuasa dan kenikmatan. Penulis Kitab Kejadian dalam bacaan pertama melukiskan tentang ambisi manusia pertama di  Eden. 

Allah yang maha baik telah memercayakan kepada mereka tumbuh-tumbuhan  dan segala binatang dalam taman itu. Mereka telah mendapatkan segalanya dalam kelimpahan. Pohon-pohon dengan buah melimpah dan nikmat, serta banyak kekayaan lainnya, ketenangan, keamanan dan kedamaian.

Tetapi, sepertinya mereka tetap tidak puas. Mereka masih menginginkan yang lebih banyak, lebih besar dan lebih nikmat. Itulah sebabnya Hawa jatuh ke dalam godaan iblis yang menawarkan buah indah dan sedap dipandang mata dari pohon di tengah taman itu. Ia memetik dan  memakannya. 

Selanjutnya, ia memberikannya juga kepada Adam, teman hidupnya. Karena godaan iblis dan tergiur oleh indahnya buah pohon itu keduanya melanggar perintah Tuhan dan jatuh ke dalam dosa.

Karena itu, kita dapat simpulkan bahwa Adam dan Hawa tidak setia dan melanggar perintah Allah, karena pertama, mereka mudah tergiur dan menginginkan kenikmatan yang lebih besar. 

Kedua, mereka tidak percaya kepada Allah dan Sabda-Nya, bahkan mereka mencurigai Allah dan kehendak baik-Nya. Ketiga, mereka berambisi mau sama dengan Allah sendiri, ingin tahu tentang yang baik dan yang jahat. 

Dan, ambisi tersebut  membuat manusia pertama  tidak tahu diri dan tidak tahu batas.

Pengalaman menghadapi godaan seperti “si Tukang Cukur” dan Manusia pertama mewakili pengalaman kita dalam hidup sehari-hari. Sering kita digoda oleh ambisi untuk mengumpulkan harta kekayaan sebanyak-banyaknya, memiliki pengaruh dan kuasa yang besar, serta ambisi agar dipuji, dikagumi dan menjadi terkenal di mana-mana. 

Dan, sering  kita gunakan cara apa saja, termasuk cara-cara  yang tidak halal, kotor dan tidak manusiawi, untuk mendapatkan semuanya. Umumnya orang bisa saja menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan ambisinya.

Pengalaman Yesus menghadapi dan mengatasi godaan iblis, dalam Injil hari ini, menjadi pelajaran berharga bagi kita. Yesus bertahan dan bahkan mengatasi tawaran dan godaan Iblis, karena Ia tetap setia pada kehendak Bapa dan fokus pada misi perutusan-Nya.  

Yesus sungguh lapar, tetapi Dia tetap yakin bahwa Allah, yang telah mengutusNya, akan menolongNya. Keyakinan itu terbukti pada akhir episode cobaan yang dialami, yaitu iblis pergi meninggalkan Yesus dengan tangan hampa, sia-sia, dan “malaikat-malaikat melayani Dia”, (Mt 4:11).

Kita pun tidak bebas dari tawaran dan godaan dalam bentuk apa pun, termasuk godaan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan menggunakan pelbagai cara, termasuk menipu dan mencuri. Kita juga mungkin berambisi mencari pangkat, kedudukan, kuasa dan menjadi terkenal, popular serta disanjung-sanjung. 

Tetapi, kita tidak boleh cemas dan berkecil hati. Kita pasti mampu mengalahkan godaan dan tawaran dalam bentuk apa pun apabila kita berpegang teguh pada iman kepada Allah dan fokus pada misi perutusan kita sebagai umat Allah dan pengikut-pengikut Kristus. 

Kita mesti ingat bahwa si Tukang Cukur dan Manusia pertama jatuh ke dalam godaan serta kehilangan harga diri dan identitas karena mereka lebih mengutamakan selera dan keinginan. Mereka jatuh ke dalam dosa karena tidak tahu diri dan tidak tahu batas.

Kita juga mesti bercermin dan belajar dari pengalaman hidup Yesus, Guru dan Tuhan kita. Yesus berhasil dan keluar sebagai pemenang karena Dia sungguh sadar akan identitas dan misi perutusanNya. Dia adalah  Anak Allah yang diutus Bapa untuk melaksanakan kehendak Bapa. 

Karena itu, sebagai pengikut Yesus kita pun mesti sadari selalu kerapuhan kita, dan sebaliknya, tetap berserah penuh pada Tuhan untuk menimba rahmat dan kekuatan. 

Kita pun mesti tetap setia dan tekun melaksanakan kehendak Tuhan. Hanya dengan demikian, Tuhan pasti tetap dan terus meneguhkan kita untuk menghadapi dan mengatasi setiap cobaan dan tantangan hidup ini. 

Semoga Tuhan Yesus memberkati kita sehingga kita tetap teguh dalam iman, harapan dan kasih selama masa Prapaskah ini!  Amen. 

Kewapante, Minggu, 22 Februari 2026.***