HOMILI Minggu Prapaskah IIA

Sabtu, 28 Februari 2026 19:30 WIB

Penulis:redaksi

goris nule.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

TUNTUTAN MENDENGARKAN SUARA TUHAN MENJADI JAMINAN UNTUK MENGALAMI KEMULIAAN             

(Kej 12: 1-4a; 2Tim 1: 8b – 10; Mat 17:1-9).

Oleh: Pater Gregor Nule SVD

Ilustrasi 

Ada sebuah bis kayu yang sedang bersiap-siap berangkat  ke kampung tujuannya. Dan bus itu harus menyusuri wilayah pegunungan dengan jalan berbantuan, lumpur, becek, dan licin. 

Ketika hendak berangkat om sopir mengingatkan para  penumpang agar tidak berusaha melompat dan turun dari truk, jika terjadi gangguan dalam perjalanan. Mereka mesti  tetap duduk tenang. 

Ketika tiba di suatu pendakian tiba-tiba truk itu tergelincir, dan mundur kembali. Pada saat itu hampir semua penumpang lompat turun dan  berusaha selamatkan diri. Dan mereka yang ingin selamatkan diri sendiri alami luka-luka, baik luka berat maupun luka  ringan. 

Tetapi, ada seorang anak kecil berumur sekitar 7 tahun, tetap duduk tenang saja. Ketika perjalanan dilanjutkan dan suasana mulai tenang, seorang ibu  bertanya kepada anak itu,”hai anakku, mengapa engkau kelihatan tenang saja sepertinya tidak takut apa-apa, padahal kita hampir celaka tadi?”

Dengan tenang anak itu menjawab, “Karena sopir kita adalah ayah saya. Saya percaya pada kata-kata dan pesannya. Dia katakan kebenaran dan saya sungguh yakin bahwa tidak mungkin dia mau mencelakakan  kita”. 

Refleksi

Anak dalam cerita di atas sungguh percaya bahwa apa yang dikatakan ayahnya adalah benar, karena ayahnya pasti inginkan  kebaikan dan keselamatan semua penumpang, termasuk anaknya. 

Anak itu tidak cemas sedikit pun dan sungguh tenang, karena memiliki keterbukaan hati untuk mendengarkan kebenaran dari bapaknya dan percaya kepada bapaknya.

Abram, dalam bacaan pertama, juga sungguh yakin akan Firman Allah dan janji yang disampaikan kepadanya. Tuhan memberikan tiga janji kepada Abram, yaitu mendapat banyak turunan dan menjadi bangsa yang besar; memiliki dan mendiami  tanah subur yang  berlimpah susu dan madu. Dan, Abram juga akan menerima berkat melimpah dan menjadi berkat bagi semua bangsa di bumi.

Abram sungguh yakin akan janji Allah itu maka ia taat pada perintah Allah dan rela meninggalkan segalanya: tanah kelahirannya, Ur, di wilayah Kaldea atau Iran (sekarang), sanak saudaranya, rumah bapaknya, serta segala kepastian dan jaminan hidup. Ia mulai berkelana menuju tanah terjanji, kendatipun tanah itu belum sedikit pun terlintas dalam bayangan. 

Abram  hanya mengandalkan Tuhan dan Sabda -Nya. Dan, iman teguh  akan janji Tuhan serta kesetiaan melaksanakan Sabda Tuhan menjadi kenyataan justeru  ketika bangsa Israel, turunan Abraham, menjadi bangsa besar dan mendiami Tanah Kanaan, yang berlimpah susu dan madu. Itulah sebabnya Abraham pantas dsebut bapa semua orang beriman (Kej 12:3).

Di sini jelas bahwa Sabda Allah selalu benar. Maka barang siapa yang  sungguh percaya kepada Allah dan Sabda-Nya  pasti akan mengalami kebahagiaan, damai sejahtera  dan selamat.

Dalam Injil Yesus memilih Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudaranya, menemaniNya naik ke gunung Tabor untuk berdoa.  Di sana mereka menyaksikan misteri penjelmaan Yesus dan mengalami kemuliaan-Nya. Para murid mengalami kehadiran Allah yang mengagumkan, yang memberikan ketenangan dan kedamaian. Itulah sebabnya Petrus berkata, “Tuhan, alangkah baiknya kita berada di tempat ini….”, (Mat 17:4).

Gunung Tabor adalah lambang tempat kudus, tempat kehadiran Allah. Di atas gunung Tabor Yesus menjelaskan tentang apa yang menjadi kehendak Bapa dan tugas perutusan yang mesti diembaniNya. Hal itu disampaikan oleh suara dari dalam awan, “Inilah Putera-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”,(Mat 17:5). 

Tinggal bersama dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya  membuat para murid tenggelam dalam kebahagiaan paripurna. Itulah sebabnya mereka mau membangun kemah atau rumah untuk menetap di sana. 

Tetapi, para murid diingatkan untuk mendengarkan suara dan perintah Yesus. Mereka diminta melanjutkan perjalanan bersama Yesus ke Yerusalem guna melaksanakan kepenuhan karya keselamatan yang mesti diembani-Nya. Karena itu, Yesus minta mereka agar segera  turun dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem. 

Para murid bukan hanya mengiringi Yesus memasuki kota suci Yerusalem. Tetapi, mereka mesti pergi bersama ke bukit Kalvari, bukit yang diselimuti dengan teriakan olok-olokan, nistaan, penghinaan, tuduhan palsu yang menusuk dan menimbulkan luka perih melebihi luka yang diakibatkan oleh sabitan sembilu. 

Kalvari adalah bukit yang dipenuhi dengan rintihan dan keluh kesah Yesus tanpa tanggapan jelas dari seorang pun, kecuali reaksi kejam seorang serdadu yang memberikan cuka asam. Yesus merasakan kesepian yang justeru menambah penderitaan dan rasa sakit tak tertahankan yang berpuncak pada kematian di salib.

Semua ini mesti terjadi karena menjadi pintu masuk bagi Yesus untuk menyelesaikan seluruh tugas perutusan dan karya keselamatan bagi seluruh umat manusia secara mengagumkan. Ini juga menjadi bukti ketaatan penuh Yesus pada kehendak Bapa-Nya.

Kita semua adalah pengikut Yesus. Kita sedang menjalani masa Prapaskah ini. Karena itu, kita mesti sadar bahwa di Jalan Yesus tidak hanya tersedia kesempatan untuk mengalami kehadiran Allah yang mengagumkan, yang memberikan ketenangan dan kedamaian sehingga kita selalu berujar, “Betapa bahagianya kami ada di sini, Tuhan”.

Sebaliknya, kita mesti mendengarkan Yesus dan taat pada perintahNya. Kita mesti bersedia berangkat ke Yerusalem bersama Yesus dan menaiki bukit Kalvari untuk mengalami penderitaan dan kematian di salib. Itulah satu-satunya  jalan menuju kemuliaan penuh bersama Yesus. 

Karena itu, seperti Yesus, kita pun hendaknya rela berkorban serta mau menanggung banyak penderitaan dan kematian. Dan, supaya kita tetap bertahan, maka kita mesti tekun berdoa dan setia ada bersama Yesus.  Amen.

Kewapante, 01 Maret 2026.***