Presiden
Sabtu, 17 Oktober 2026 18:11 WIB
Penulis:Redaksi

MAUMERE (Maumere)– SMPK Bina Wirawan Maumere, Kabupaten Sikka, mengaku belum pernah menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski sekitar 600 siswa, guru, dan karyawan sekolah tersebut telah didata sejak 2024.
Kepala SMPK Bina Wirawan Maumere, Sr. Maria Imaculata Awu, CIJ, bersama operator sekolah, Yulianus Gedo, mengungkapkan hal itu saat ditemui Floresku.com di Maumere, Jumat (17/10).
Yulianus mengatakan, pendataan yang dilakukan sekitar dua tahun lalu tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga seluruh guru dan karyawan sekolah.
“Saat pendataan, mereka (pihak SPPG) bukan saja mendata siswa, melainkan meminta semua guru dan karyawan juga didata. Totalnya kurang lebih 600 orang,” ujar Yulianus.
Namun, setelah pendataan tersebut, pihak sekolah mengaku tidak pernah mendapat informasi lanjutan mengenai kepastian penyaluran MBG. Hingga 17 Oktober 2026, program tersebut belum diterima oleh sekolah mereka.
Sr. Maria Imaculata Awu mempertanyakan tujuan pendataan jika pada akhirnya siswa dan tenaga pendidik di sekolahnya tidak mendapatkan manfaat dari program tersebut.
Baca juga:
“Untuk apa kami didata kalau sampai sekarang tidak dapat? Anak-anak kami menunggu. Kalau memang tidak dapat, jujur saja dari dulu,” tegasnya.
Ia juga membantah kabar yang menyebut SMPK Bina Wirawan Maumere menolak program MBG.
“Tidak benar kalau ada yang menyampaikan sekolahnya menolak MBG. Kami tidak pernah menolak,” tandasnya.
Pertanyakan Keadilan bagi Siswa Sekolah Swasta
Sr. Maria mengaku prihatin karena, menurut pihak sekolah, sejumlah sekolah lain di Kecamatan Alok telah menerima MBG secara rutin, sementara sekitar 600 orang di SMPK Bina Wirawan belum pernah mendapatkannya.
Ia mempertanyakan apakah siswa sekolah swasta memperoleh kesempatan yang sama untuk menikmati program pemenuhan gizi tersebut.
“Yang lain dapat MBG, lalu anak didik kami tidak. Lalu yang tidak dapat sama sekali kompensasinya apa? Apakah gizi anak sekolah swasta tidak penting? Keadilannya di mana?” ujarnya.
Baca juga:
Pihak sekolah berharap pemerintah memberikan penjelasan terbuka mengenai mekanisme penetapan penerima manfaat, status hasil pendataan, serta kepastian apakah sekolah mereka akan mendapatkan MBG.
Usulkan Bantuan Makanan Tambahan
Sebagai gambaran, pihak sekolah menghitung bahwa apabila 600 orang menerima makanan senilai Rp15.000 per porsi, kebutuhan anggarannya mencapai Rp9 juta per hari.
Jika dikalikan 365 hari, nilainya sekitar Rp3,285 miliar per tahun. Namun, angka tersebut merupakan simulasi perhitungan berdasarkan asumsi sekolah, bukan nilai anggaran yang telah dipastikan dialokasikan untuk SMPK Bina Wirawan.
Perhitungan itu juga belum memperhitungkan jadwal hari sekolah, jumlah hari penyaluran aktual, serta ketentuan resmi mengenai sasaran dan biaya program MBG.
Sr. Maria meminta agar pemerintah tidak membiarkan siswa terus menunggu tanpa kepastian. Sambil menanti kejelasan penyaluran, ia mengusulkan pemberian makanan tambahan (PMT), termasuk menu berprotein ganda selama tiga bulan.
“Kami tidak minta diistimewakan, kami hanya minta keadilan. Sementara menunggu, tolong beri kami PMT. Beri anak-anak kami menu protein ganda selama tiga bulan untuk mengejar ketertinggalan gizi anak-anak di daerah stunting tinggi ini,” pintanya.
Minta Penjelasan Bupati dan BGN
Pihak SMPK Bina Wirawan berharap Bupati Sikka dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) turun tangan untuk memberikan penjelasan tertulis mengenai status pendataan sekitar 600 orang tersebut, mekanisme penyaluran program, serta kepastian jadwal distribusi MBG bagi sekolah mereka.
Sekolah juga meminta penjelasan mengenai alokasi anggaran program agar persoalan ini tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Hingga berita ini ditayangkan, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka belum berhasil dikonfirmasi.
Floresku.com akan berupaya meminta klarifikasi dari pihak terkait untuk memperoleh penjelasan mengenai status pendataan dan penyaluran MBG di SMPK Bina Wirawan Maumere. (Silvia). ***