Uskup Labuan Bajo Raih Profesor di Usia 52 Tahun, Dikukuhkan 8 Mei

Selasa, 05 Mei 2026 15:27 WIB

Penulis:Redaksi

uskup mask.jpg
Uskup Labuan Bajo Mgr Maksimus Regus (Istimewa)

LABUAN BAJO (Floresku.com )— Kabar membanggakan datang dari Gereja Katolik di Flores. Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Maximus Regus, akan dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam bidang sosiologi agama dan multikulturalisme di Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

Pengukuhan akademik tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026, di kampus Unika St. Paulus Ruteng. Dengan pencapaian ini, jumlah uskup di Indonesia yang menyandang gelar profesor kembali bertambah.

Mgr. Maximus Regus, yang saat ini berusia 52 tahun, tergolong relatif muda untuk meraih gelar akademik tertinggi tersebut. Ia dikenal tidak hanya sebagai pemimpin Gereja, tetapi juga sebagai akademisi yang aktif menulis dan mengajar.

Pengangkatan sebagai profesor ini menempatkan dirinya sejajar dengan sejumlah tokoh Gereja Indonesia yang juga bergelar profesor, seperti Adrianus Sunarko, Henricus Pidyarto Gunawan, dan Ignatius Suharyo.

Baca juga:

Mgr. Maximus Regus ditahbiskan sebagai Uskup Labuan Bajo pada November 2024, menjadikannya uskup pertama di keuskupan termuda di Indonesia tersebut. Di tengah tanggung jawab pastoralnya, ia tetap aktif dalam dunia akademik sebagai dosen di Unika St. Paulus Ruteng.

Riwayat pendidikannya dimulai dari Seminari Pius XII Kisol, lalu melanjutkan studi filsafat dan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 10 Agustus 2001 oleh Eduardus Sangsun di Katedral Ruteng.

Dalam perjalanan akademiknya, ia menempuh studi magister di Universitas Indonesia dalam bidang sosiologi pembangunan. Ia juga menjalani riset di International Institute of Social Studies, Erasmus University Rotterdam, serta meraih gelar doktor dari Tilburg University dengan disertasi tentang budaya hak asasi manusia di Indonesia.

Sejak 2018, ia mengabdi sebagai dosen di Unika St. Paulus Ruteng, kemudian dipercaya sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (2019–2023), hingga akhirnya menjabat rektor sebelum diangkat menjadi uskup.

Pengukuhan ini menjadi penegasan bahwa peran pemimpin Gereja tidak hanya terbatas pada pelayanan pastoral, tetapi juga kontribusi intelektual dalam menjawab tantangan sosial dan kemajemukan masyarakat Indonesia. (SP-MAR). ***