Viral di Medsos Video Bernada Provokasi, Masyarakat Adat Terlaing Minta Polres Mabar Tangkap Doni Parera

Sabtu, 16 Oktober 2021 18:41 WIB

Penulis:redaksi

Editor:Redaksi

masyarakat adar terlaing.jfif
Para tokoh masyarakat adat Mbehal, Manggarai Barat (Tangkapan layar dalam video)

LABUAN BAJO (Floresku.com) - Masyarakat adat Terlaing mengakui keberatan atas video  yang viral di media sosial,  yang dimana dalam video tersebut tampak saudara Doni Parera mengepalkan tangan dan mengumandangkan seruan yang diduga menghasut dan provokasi.

"Dalam video tersebut tampaknya saudara Doni Parera menyerukan bahwa "@apabila ada orang yang akan mengambil tanah mereka akan terjadi pertumpahan darah", ujar Yosep Yakob Tua Pasa Masyarakat Adat Terlaing, meniru suara Doni Parera.

Dirinya juga mengatakan bahwa, bahasa Doni Parera dalam video tersebut berpotensi menimbulkan konflik horizontal di tengah masyarakat adat.

Baca juga: https://floresku.com/read/dp-diduga-picu-konflik-di-antara-masyarakat-adat

"Ini orang berbahaya dan akan membawa bencana bagi masyarakat Mabar. Ia bukan warga adat Lancang atau Terlaing, ia pendatang. Ini lagi-lagi bahaya," tambah Yakob.

Dikatakannya pada tahun 2017 terjadi pertumpahan darah di menjerite yang diduga kuat kejadian tersebut merupakan kerja dari para mafia tanah.

"Bayangan akan tragedi Menjerite tahun 2017 yang menewaskan beberapa korban, mulai terbayang lagi. Masyarakat adat yang lugu dan pasrah, diadudomba oleh para aktor intelektual, "ujar Yakob lagi.

Orang-orang dalam video tersebut, lanjut dia merupakan kelompok pengacau, dan dalam video itu juga orang-orang tersebut tampak berdiri di atas tanah adat Terlaing.

"Orang-orang yang ada di video itu kelompok pengacau. Mereka berdiri di atas tanah adat Terlaing, lingko Nerot. Ini benar-benar gerombolan pengacau,"tambah Yakob.

Baca juga: https://floresku.com/read/saat-presiden-resmikan-pelabuhan-waekelambu-masyarakat-adat-mbehal-merintih-karena-telah-ditipu-mafia-tanah

Demi proses pembangunan di Mabar berjalan mulus, diharapkan pihak kepolisian beserta masyarakat sama-sama menjaga ketertiban dan taat hukum.

"Supaya tidak terjadi konflik antara masyarakat,  kami minta pihak keamanan perlu menjaga ketertiban", kata dia.

Senada dengan itu,  Hendrikus Jempo Tua Gendang Terlaing mengakui bahwa hubungan antara masyarakat adat di tanah Boleng sejak dulu kala berlangsung aman dan damai. Keakraban sangat kental ketika upacara adat dan kawin-mawin antara masyarakat adat terjadi.

"Jalinan hubungan antara masyarakat Terlaing dengan Rareng, Rai, Tebedo, wangkung dan dengan Mbehal berlangsung akrab dan penuh keharmonisan", ujar Hendrik Jempo.

Namun dalam perjalanan waktu, disampaikannya  hubungan tersebut mulai diganggu bahkan dibenturkan oleh segelintir orang.

"Tapi belakangan, hubungan ini mulai diganggu bahkan dibenturkan oleh segelintir orang, yang mempunyai niat jahat," jelasnya.

Yang dikhawatirkan,  lanjut jempo ada orang yang mencoba untuk menghasut dan memprovokasi hubungan antar masyarakat adat yang akan mengakibatkan pertumpahan darah.

"Yang kami khawatirkan, aksi segelintir orang  yang menghasut dan memprovokasi masyarakat akan terjadi pertumpahan darah di antara kami. Itu yang kami takutkan," tambahnya.

Baca juga:  https://floresku.com/read/pengangkatan-tua-golo-palsu-akal-bulus-para-mafia-untuk-terbitkan-sertifikat-tanah-di-lingko-bale

Diakuinya, kerap kali para mafia tanah mendatangkan preman dari luar daerah untuk menduduki tanah adat.

"Berapa kali kejadian di lingko Nerot, para mafia mendatangkan preman dari luar untuk menduduki tanah adat kami dan nyaris beberapa kali pertumpahan darah, "jelas Hendrik lagi.

Demi terhindar dari konflik horisontal, dirinya meminta sebaiknya masyarakat tetap menjaga persaudaraan dan jangan lagi menghasut dan provokasi masyarakat.

"Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami sedang melacak komentar- komentar di media sosial yang bersifat menghasut dan provokasi", kata dia.

Hendrikus Jempo menyampaikan bahwa dirinya tak menginginkan tragedi berdarah pada tahun 2017 di kawasan Menjerite terulang kembali.  Yang diduga kuat itu merupakan peran dari para provokator.

"Kami tidak mau terulang lagi tragedi berdarah di kawasan Menjerite tahun 2017. Peristiwa ini  diduga ada aktor intelektual yang memprovokasi dan menghasut masyarakat, "tegas dia.

Saat ini, masyarakat adat Terlaing sedang melacak komentar-komentar Doni Parera di media sosial yang bersifat memprovokasi, hal tersebut mereka lakukan untuk melaporkan ke Pihak Kepolisian.

"Kami sedang melacak komentar yang provokasi dan menghasut dari saudara Doni Parera. Setelah itu kami akan melaporkan temuan itu ke pihak kepolisian," tutup Hendrik Jempo. (Paul R.) ***