SISI KEHIDUPAN: Dona Lebao, si Perajin Ikat Tenun Sikka

Selasa, 08 November 2022 19:28 WIB

Penulis:redaksi

Editor:redaksi

DONA BEM.JPG
Brigita Dona Lebao (Dokpri)

Oleh: Bayu Tonggo *

PAGI itu, sembari menunggu jadwal kuliah pada siang hingga sore hari, Brigita Dona Lebao atau yang akrab disapa Donamenyempatkan diri berada di depan laptop untuk mengedit flyer, iklan penawaran jasa menjahit logo Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero di jas BEM IFTK. 

Dona mengedit flyer itu dengan menggunakan aplikasi andalan dalam usahanya, yakni canva

Suasana pagi yang sepi, karena semua anggota keluarga pergi bekerja, sangat memungkinkan bagi Dona untuk lebih leluasa dalam menjalankan aktivitasnya di ruang tamu rumahnya. Ditemani secangkir teh hangat, Dona pun memulai pekerjaannya.

Dona merupakan seorang mahasiswi semester I Prodi Kewirausahaan, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. 

Ia adalah anak kedua dari lima bersaudara, dari pasangan Bapak Petrus Kpalet dan Ibu Maria Waldetrudis Bribin. Saat ini bersama keluarganya, ia tinggal di Jalan Wairklau, RT 005, RW 008, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. 

Ia lahir pada 14 september 2004. Karena tahun kelahirannya ini, ia tergolong anak  zaman milenial. Dan, karena memiliki usaha tenun ikat, Dona sering disebut oleh teman-teman seangkatannya di IFTK Ledalero, sebagai ‘perajin ikat tenun milenial’. 

“Selamat pagi, kakak. Aduh...mari kakak, mari masuk”, sambut Dona sambil terburu-buru memindahkan laptop ke dalam kamarnya yang berada tepat di sebelah ruang tamu. 

Sembari menyuguhkan secangkir teh hangat dan sepiring kue kering, Dona mulai menceritakan pengalaman usahanya sebagai perajin ikat tenun Sikka di tengah perkembangan teknologi saat ini. 

“Ya, kaka, mungkin sebutan yang tepat untuk saya dengan usaha kecil yang saya jalankan ini, yaitu perajin ikat tenun Sikka, seperti yang teman-teman seangkatan di Ledalero menyebutnya. Tapi, perajin ikat tenun, ya, yang benar, bukan perajin tenun ikat. Karena kalau orang menenun kain, orang ikat dulu baru tenun, bukan tenun dulu, baru ikat”, jelas Dona menegaskan sebutan yang cocok untuk pekerjaannya itu. 

Dona juga menambahkan bahwa nama usaha kerajinan ikat tenunnya itu adalah Brandorin. 

“Nama Brandorin sebetulnya diambil dari nama panggilan kami berlima, saudara-saudari, yakni Brayen, Acha, Vinda, Dona, dan Kerin”, ungkap gadis berkacamata ini, yang mulai tertarik dalam usaha kerajinan ikat tenun Sikka sejak dirinya menempuh pendidikan di SMA St. Gabriel, Maumere, Jurusan Tata Busana.

Empat Aplikasi yang sangat menguntungkan

Untuk menarik pelanggan, Dona sering memanfaatkan empat aplikasi guna mempromosikan usaha Brandorinnya. Keempat aplikasi itu, yakni canva, whatsApp, facebook, dan instagram

Dari keempat aplikasi ini, satu di antaranya, yaitu canva sering dimanfaatkan Dona untuk membuat flyer iklan usaha Brandorinnya. 

Sementara tiga aplikasi lainnya, yakni whatsApp, facebook, dan instagram dimanfaatkan Dona sebagai platform promosi produk usahanya. 

Adapun sejumlah produk Brandorin beserta harganya yang sering dipromosikan Dona di tiga aplikasi tersebut, yakni blazer kombinasi sarung (Rp 250.000,00), blazer full sarung (Rp 500.000,00 hingga Rp 1.000.000,00), totebag sarung (Rp 150.000,00 sampai Rp 200.000,00), pouch bag sarung (Rp 75.000,00), busana pesta (Rp 200.000,00 hingga Rp 250.000,00), dan busana santai (Rp 150.000,00 hingga Rp 175.000,00).

Bagi Dona, dengan memanfaatkan keempat aplikasi tersebut, dirinya dimudahkan untuk mendapatkan pelanggan baik dari kelompok orang dewasa maupun anak-anak muda. 

“Saya merasa sangat beruntung memanfaatkan aplikasi canvawhatsApp, facebook, dan instagram. Dengan empat aplikasi ini, saya sangat terbantu untuk mendapatkan banyak pelanggan baik dari kelompok orang dewasa maupun anak-anak muda”, kata Dona. 

“Sebelum saya memanfaatkan tiga aplikasi ini, whatsApp, facebook, dan instagram, untuk membagikan flyer iklan Brandorin, kebanyakan pelanggan usaha saya ini berasal dari kelompok orang dewasa. Akan tetapi, sejak saya mulai memanfaatkan tiga aplikasi itu, pelanggan usaha saya ini pun semakin meluas ke anak-anak muda”, tutur Dona dengan raut wajah yang serius.

Dona juga menambahkan bahwa dengan memanfaatkan ketiga aplikasi tersebut, dirinya mulai merasa ada perubahan dalam metode pemasaran untuk usaha Brandorinnya.

“Jika sebelumnya metode pemasaran yang saya gunakan, yaitu metode dari mulut ke mulut; sekarang dengan memanfaatkan aplikasi whatsApp, facebook, dan instagram, metode pemasaran saya bergerak secara online. Ini sangat menguntungkan”, ungkap Dona.

Harapan melalui usaha Brandorin

Melalui usaha yang tengah digelutinya, Dona berharap mampu memotivasi kaum muda di Sikka untuk bersama-sama menghidupkan kebudayaan lokal. 

“Bukan hanya ikat tenun Sikka yang bisa diolah dalam usaha, seperti yang sedang saya jalankan ini. Ada juga kebudayaan lokal lain di wilayah Sikka ini yang dapat diolah dalam usaha, sebagai bagian dari upaya menghidupkan dan mempromosikannya ke masyarakat luas. Ini adalah tugas kaum muda”, lanjut Dona dengan nada semangat.

Tessa Wisang yang merupakan salah seorang pelanggan usaha Brandorin Dona, juga mengungkapkan harapan yang serupa.

“Melihat usaha Brandorin yang dijalankan Dona, mudah-mudahan banyak kaum muda di Nian Tana Sikka ini, termasuk saya juga, termotivasi untuk menghidupkan aneka kebudayaan lokal. Dona yang masih sangat muda ini saja bisa. Kami pun harus berbuat lebih”, ungkap Tessa yang adalahteman seangkatan Dona di IFTK Ledalero. 

Di akhir pertemuan kami pada hari Kamis, 3 November 2022, Dona mengungkapkan harapannya bahwa lewat usaha Brandorinnya, ikat tenun Sikka semakin dikenal luas, baik di kancah nasional maupun internasional. 

“Harapan saya lewat usaha Brandorin ini, ialah semoga ikat tenun Sikka semakin dikenal luas oleh masyarakat di skala nasional dan luar biasa lagi kalau sampai pada skala internasional,” tegas Dona. ***

*Bayu Tonggo adalah mahasiswa Prodi Filsafat Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere.