HOMILI, Pater Gregor Nule, SVD, Minggu Biasa IIIB, 21 Januari 2023

Sabtu, 20 Januari 2024 17:06 WIB

Penulis:redaksi

pater goris4.jpg
Pater Gregor Nule SVD (Dokpri)

KITA DIPANGGIL MENJADI SALURAN BELASKASIHAN ALLAH KEPADA SEMUA ORANG

 (Minggu Biasa IIIB:Yun, 3: 1-5.10; 1Kor 7:29-31; Mrk 1:14 – 20)

Dalam Injil hari ini Yesus  mengingatkan para pendengarNya untuk insyaf bahwa waktu Allah untuk melaksanakan rencana keselamatan bagi manusia dan dunia sesuai janjiNya turun-temurun sudah tiba. 

Yesus bersabda, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat”; (bdk. Mrk 1:15). 
Dan  jalan yang ditawarkan adalah ajakan untuk bertobat dan percaya.  “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”,(Mrk 1:15).  

Di sini, Allah tidak memaksa siapa pun, apalagi mengancam  dengan hukuman dan kutukan. Sebaliknya Allah justeru memberi kesempatan kepada setiap orang, khususnya orang-orang berdosa, supaya bertobat, percaya dan mengalami hidup baru. 

Tetapi, untuk melaksanakan rencanaNya, Allah tidak bekerja sendiri, Dia  selalu  mengikutsertakan kita manusia. 

Nabi Yunus, dalam bacaan pertama, dipanggil dan diutus oleh Allah untuk mewartakan pertobatan kepada orang-orang Ninive yang telah jatuh ke dalam dosa dan hidup jauh dari Allah. Allah menginginkan keselamatan dan kebahagiaan mereka. 

Tanggapan awal Yunus negatif.  Ia menolak panggilan Allah karena hatinya  tertutup  dan berpikiran sesat. Ia  belum memahami kehendak keselamatan Allah yang merangkul semua umat manusia.  Yunus  terusik oleh rasa ingat diri dan kebencian, karena menurutnya panggilan keselamatan hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel. 

Menurut Yunus, bangsa Asyur atau orang-orang Ninive tidak mungkin akan selamat karena mereka adalah musuh bangsa Israel sendiri. Maka  mereka  tidak pantas diajak untuk bertobat dan mengalami kselamatan. 

Karena itu, proses pertobatan terjadi demikian. Allah pertama-tama memberikan jalan pertobatan yang berat dan mengerikan kepada Yunus. Ketika melarikan diri ke Tarsus kapal yang ditumpanginya diterpa badai. 

Maka ia membiarkan dirinya  dilemparkan ke dalam badai laut yang ganas. Dan ia ditelan oleh seekor ikan besar lalu setelah tiga hari ia dimuntahkan ke darat, (bdk. Yun 1:1-17).   

Perisistiwa itu membuat Yunus sadar bahwa jalan Tuhan bukanlah jalannya, pikiran dan rencana Tuhan, bukanlah pikiran dan rencananya. Ia bertobat dan menjadi manusia baru.

Saat itulah Tuhan kembali menyampaikan Firman kepada Yunus untuk pergi ke Ninive menyerukan pertobatan. Yunus  menerima dan siap menjalankan perutusan Allah untuk menjumpai orang-orang Ninive serta mewartakan pertobatan kepada mereka.

Hasilnya ialah  orang-orang Ninive bebas dari hukuman Allah dan selamat karena mereka mendengarkan seruan nabi Yunus,berpuasa, bertobat  dan   percaya kepada Allah.  

Hal yang sama terjadi pada masa Yesus ketika  pertama kalinya tampil di depan umum.  Ia memanggil orang-orang yang berkehendak baik untuk datang kepadaNYa, mengikutiNYa dan menetapkan mereka  sebagai rasul dengan tugas khusus mewartakan khabar sukacita dan berusaha mengatasi kuasa-kuasa setan, kegelapan dan kejahatan. 

Yesus memanggil murid-murid pertama yang berasal dari pelbagai profesi, pekerjaan dan status sosial, antara lain, Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes, nelayan-nelayan sederhana di Danau Genazeret, yang bersedia mengikuti Yesus dan dididik   menjadi penjala manusia. Lewi atau Mateus, seorang pemungut cukai, dan murid-murid lain, termasuk Yudas Iskariot yang kemudian mengkhiati dan menjual Yesus.

Mereka dipanggil untuk ikut serta dalam rencana dan karya keselamatan umat manusia. Mereka melaksanakan dan melanjutkan tugas perutusan Yesus, mencari dan menemukan orang-orang yang hilang, menyembuhkan orang sakit, melegakan hati orang-orang yang merasa tertekan dan menderita, memberikan kepuasan kepada mereka yang lapar dan haus, serta membawa pulang orang-orang tersesat kepada Allah untuk mengalami kasih, belaskasihan dan hidup baru.  

Para murid perdana hanya bisa pantas menjadi rasul atau utusan Yesus dan penjala manusia karena mereka rela bertobat, meningggalkan orangtua, keluarga, profesi dan hidup lama lalu bersedia mengenakan hidup baru dan menjadi manusia baru di dalam Yesus.   

Bagaimana dengan kita? Tuhan juga sering berjalan lewat di dalam kehidupan kita. Tuhan memperhatikan apa yang kita lakukan. Ia menyapa kita, bahkan Ia memanggil kita untuk mengkuti jalan hidup dan karya keselamatanNya.

Sebagaimana Allah memanggil Yunus untuk menyerukan pertobatan bagi orang-orang Ninive, dan Yesus memanggil murid-murid perdana untuk mengikutiNya dan Ia jadikan penjala manusia, demikian pun kita dipanggilNya untuk perutusan yang sama. 

Kita diutus menjadi penjala manusia di tengah lingkungan kita. Sebab kita turut bertanggungjawab terhadap kebaikan dan keselamatan orang-orang di sekitar kita. Inilah makna sosial dari iman kita.

Tetapi, kita mesti sadar bahwa medan misi kita luas, berat dan kompleks. Kita akan hadapi banyak tantangan dan kesulitan. 

Kita tidak hanya berhadapan dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, tetapi juga dengan orang-orang yang masa bodoh dan tidak pusing-perduli. Kita berhadapan dengan orang-orang yang secara terang-terangan melawan Tuhan dan kehendakNya.

Kita belajar dari Yesus tentang cara tepat dan benar menjadi penjala manusia. Yesus datang untuk kebaikan dan keselamatan semua orang. Ia tidak pilih muka atau pilih kasih. 

Yesus mencari dan menemukan domba yang hilang. Yesus mencari dan menyembuhkan mereka yang sakit. Yesus mencari dan mempersatukan mereka yang terlantar dan tercerai-berai. 
Karena itu, kita mesti bertobat serta mengenakan cara hidup dan pola pikir Yesus sendiri. Kita sering berpikir dan bersikap seperti nabi Yunus terhadap orang-orang Ninive. Sering kita pertahankan pola hidup lama, suka ingat diri dan menganggap diri lebih baik daripada yang lain. 

Kita perlu ingat nasehat St. Paulus bahwa waktu yang tersedia untuk menampakkan keagungan Allah dalam hidup ini tidak banyak. 

Maka kita mesti menggunakan sebaik-baiknya kemungkinan yang tersedia untuk menyatakan kasih Allah di tengah kehidupan kita.

Tuhanlah yang harus menjadi titik tolak dan tujuan akhir hidup kita. Maka atas dasar kasih yang sejati seseorang akan rela menjadi sesama bagi orang lain, dan hanya atas dasar kasih murni seseorang rela memberi diri demi kebahagiaan orang lain.

Semoga Tuhan Yesus yang telah memanggil dan menetapkan kita sebagai muridNya memberkati kita sekalian. Amen.

Kewapante, Minggu, 21 Januari 2023
P. Gregorius Nule, SVD. ***